Pewarta : OTONG | Editor : RYAN S KAHMAN
“Perihal lantai keramik memang harus sesuai RAB, dengan menggunakan kualitas nomor 1, kalau memang di lapangan itu menggunakan kualitas nomor 3 coba nanti kami cek dahulu ke lokasi,” ucapnya
KARAWANG | DIDUGA ingin memperbesar keuntungan proyek pembangunan proyek pembangunan Renovasi multi pungsi UPTD Pertanian Pakisjaya terkesan di kerjakan asal-asalan dan dittemukannya bahan matrial tidak sesuai dengan RAB.
Selain itu diduga banyak kejanggalan dalam pembangunan proyek Renopasi Multipungsi UPTD Pertanian Pakisjaya sehingga menjadi sorotan public.
Dari hasil infestigasi awak media di temukan dugaan ke curangan dan tidak sesuai spesifikasi pembangunan, seperti bangunan sekat menempel pada bangunan yang lama dan bahan Matrial menggunakan bahan Matrial rendah. Seperti untuk lantai keramik menggunakan kualitas nomor 3,dan untuk atap plafon menggunakan GRC.
Di tempat terpisah awak media coba komunikasi melalui via WhatsApp,dengan pihak konsultan, dikatakannya untuk pembangunan Renovasi multifungsi tersebut memang untuk sekat memang boleh menempel pada bangunan lama.
“Adapun untuk atap plafon harus memakai Gibsun bukan GRC dan untuk lantai keramik harus menggunakan kualitas nomor 1,” katanya.
BACA JUGA : Pembina ReJO : Pilih Pemimpin yang Tingkatkan Kesejahteraan Pengemudi
Masih kata Konsultan tersebut, erihal lantai keramik memang harus sesuai RAB, dengan menggunakan kualitas nomor 1, kalau memang di lapangan itu menggunakan kualitas nomor 3 coba nanti kami cek ke lokasi.
Sementara itu, salah seorang warga sekitar yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan bahwa bahan material sering terlambat sehingga pekerja kadang diliburkan
“Sudah berapa hari ini yang kerja libur. Mau mengerjakan apa, kalau bahan matrialnya tidak ada,’ ucapnya.
Anggaran yang bersumber dari Dana Alokasi khusus ( DAK ) Tahun 2023 yang cukup lumayan pantastis yang di kerjakan CV.GUNTUR senilai Rp.134.938.000.yang di duga banyak ke curangan dalam pelaksanaan nya,dengan masa waktu habis masih tetap berjalan di duga pelaksana lalai. ***