Kandidat Lain Asyik Ngobrol, Dedi Mulyadi Sikap Sempurna Nyanyikan Indonesia Raya

oleh
banner 300250

BANDUNG – SinfoNews.Com

Ketakwaan seorang pemimpin, tercermin dari sikap adil saat memimpin. Pelayanan publik yang holistik menurutnya menjadi kunci utama.

Debat Publik III Pilgub Jawa Barat menyajikan momen yang menampar rasa nasionalisme kebangsaan Indonesia. Momen tersebut terjadi saat Lagu Kebangsaan Indonesia Raya berkumandang.

Debat terakhir itu dilaksanakan di Grand Sudirman Ballroom. Tepatnya di Jalan Jenderal Sudirman, Kota Bandung, Jum’at (22/6/2018).

Saat lagu ciptaan WR Soepratman itu dinyanyikan seluruh hadirin, para kandidat terlihat asyik mengobrol. Kecuali, Calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Dia tampak mengambil sikap sempurna dan turut bernyanyi.

Foto tersebut tersebar di sosial media karena diunggah oleh halaman Facebook relawan non official Wargi Kang Dedi Mulyadi. Berbagai komentar pun bermunculan dalam unggahan tersebut.

“Moal milih urang jauh, ieu mah Kang Dedi Mulyadi, sing dugi ka loji (Karawang) mun jadi. (Tidak akan memilih yang jauh ini mah Kang Dedi Mulyadi. Semoga sampai ke loji kalau jadi),” kata Mamun Pratama, salah seorang netizen.

Komentar juga terlontar dari akun Facebook Derry Ferrywansyah. Menurut dia, seorang pemimpin harus memberikan contoh dari hal yang menurut anggapan orang lain sepele. Terlebih, hal besar seperti nilai kebangsaan.

“Pemimpin sejati harus memulai dari hal kecil. Kalau saat lagu Indonesia Raya berkumandang saja malah sibuk ngobrol. Maka, ibu bapak bisa menilainya sendiri,” ujarnya.

Korelasi Agama, Pancasila dan Akhlak

Senada dengan pilihan sikapnya, secara gamblang mantan Bupati Purwakarta tersebut membahas korelasi agama, Pancasila dan akhlak. Menurut dia, ketiganya dapat melahirkan harmoni dalam kehidupan kebangsaan.

“Agama dan Pancasila itu melahirkan kemuliaan akhlak. Baik kepada sesama manusia, alam maupun Tuhan. Harmoni ini juga harus lahir dalam kehidupan demokrasi orang Jawa Barat,” katanya.

Ketakwaan seorang pemimpin, kata kader Nahdlatul Ulama itu, tercermin dari sikap adil saat memimpin. Pelayanan publik yang holistik menurutnya menjadi kunci utama.

“Pemimpin yang bertakwa itu tidak akan membiarkan orang sakit repot mencari ambulance untuk ke rumah sakit. Dia tidak membiarkan perempuan yang akan melahirkan kerepotan mencari bantuan. Ketakwaan baginya adalah sejauh mana dia memberikan manfaat untuk masyarakatnya,” ucapnya.#Nien

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *