Scrool Untuk Membaca
banner 325x300
banner 970x250
Sosial & Budaya

Pembangunan Alun-alun Dikritisi Budayawan Sunda ,Prasasti Sejajar Lantai.

0
×

Pembangunan Alun-alun Dikritisi Budayawan Sunda ,Prasasti Sejajar Lantai.

Sebarkan artikel ini
banner 325x300

Laporan :DENI  I Editor :NANDANG

Harusnya ,kata Bunda Eryanti. peletakan dibuat seperti monumen atau di tempel di tembok jangan dilantai, itu kan di ijak, apalagi Sumedang ini puseur budaya Sunda.”

banner 325x300

SUMEDANG,- Bupati H. Doni Ahmad Munir, Sekda Herman Suyatman dan intansi terkait meninjau l pembangunan renovasi Alun-alun Sumedang, jelang peresmian . Pembangunan alun-alun mendapat sorotan warga terakit prasasti aksara kuno sangsakerta itu disejajarkan dengan lantai taman bermain .

Kalangan pendidik yang juga warga kelurahan Cipameungpeuk, Ajri, merespon maksud baik adanya prasasti memberikan nuansa bahasa peninggalan leluhur pilosofi sunda (ulah poho ka wiwitan) seperti ditiung samemeh hujan, lebih lanjut, bila dinilai dari sisi budayanya dimana diletakkan prasasti berbahasa akasara kuno sangsakerta, itu sangat kami dukung.

“Namun letak penyimpanan tidak tepat terkesan kurang menghargai leluhur, karena penempatan prasasti tulisan bahasa peninggalan leluhur kenapa disamakan sejajar dengan lantai, lihat saja banyak terinjak pengunjung, coba di bikin seperti monumen,”katanya.

Budayawan Sunda yang dikenal sering sosialisasikan sejarah peninggalan leluhur di negeri nusantara bahasa hanacaraka, Akrab disapa bunda Eryanti, mengatajan istifar dulu , mendengar aksara kuno sangsakerta itu disejajarkan dengan lantai taman bermain masyarakat. tulisan kuno itu harus dihargai karena mengandung filosofi. Aksara kuno hanacaraka setiap hurufnya mengandung arti dan itu hasil karya dari pemikiran orang orang terdahulu leluhur.

“Ko bisa di ijak yah, kalau kita tau huruf sunda kuno mungkin akan lebih menghargai, karena mencerminkan harga diri sendiri yang tidak boleh di injak- injak, kalau nyatanya memang begitu dan malah disamakan dengan lantai, kemana nilai budaya pekertinya menghargai karya orang lain apalagi terlebih itu merupakan hasil orang terdahulu pelaku penemu bahasa sunda, tidak akan ada kita tanpa mereka,” tegasnya

Harusnya ,kata Bunda Eryanti. peletakan dibuat seperti monumen atau di tempel di tembok jangan dilantai, itu kan di ijak, apalagi Sumedang ini puseur budaya Sunda.

“Ditempakan khusus didinding jangan dilantai,”imbuhnya.

Sementara Asisten pembangunan Hilman Taufik, menjelaskan memang ini sudah 100% tapi itu untuk yang sekarang, karena ada tahap dua, nanti kita akan berikan penataan jalur pada lingkungan seperti menunjukan arah ke Gedung negara dan gedung sekitar sekeliling Alun-alun Sumedang ini.

“Renovasi wajah baru ini sudah 100%, makanya besok kita resmikan, dan hari ini peninjauan sekedar untuk melihat hasil,”pungkasnya.(*)

Print Friendly, PDF & Email
banner 325x300
banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *